Umpama Air, Umpama Mentari

maulud

‘’Ya Allah! Umatku! Umatku!’’ Tangis air matanya berguguran memohon doa dari Pemilik segala alam.

Lalu Allah berfirman; “Wahai Jibril, pergilah menemui Muhammad dan tanyakan apakah sebabnya dia menangis?” (Allah maha Mengetahui).

Maka Jibril menemui  Muhammad saw lalu bertanya kepadanya dan Baginda mengkhabarkan kepada Jibril sebab tangisannya.

Allah swt berfirman; “Pergilah kepada Muhammad dan katakanlah “Sesungguhnya Kami akan membuatkan engkau reda pada umatmu dan Kami tidak akan menyakitimu dalam urusan umatmu.’’

 

Nah, saksikan keagungan cinta sang nabi kepada umatnya.

Masihkah wujud cinta setanding ini?

Adakah bisa untuk kita tidak mencintai insan yang memiliki cinta seagung ini?

Dialah yang mengikat perut dengan dua biji batu melebihi para sahabatnya yang hanya dengan sebiji batu akibat kelaparan ketika menggali parit di perang Ahzab.

Dialah yang dipukul dengan pedang di bahu dan kepalanya sehingga tertusuk manik besi ke dalam pipinya dan patah gigi serinya di perang Uhud.

Dan dialah yang tatkala dihalau, dikejari, dibaling batu dan dilemparkan dengan kata-kata yang sesat oleh kaumnya,malah ketika malaikat menawarkan untuk membalikkan gunung ke atas kaummnya, subhanallah, hanya doa yang diungkapkan buat umatnya “Ya Allah, berilah petunjuk kepada kaumku. Sesungguhnya mereka tidak mengetahui.”

Atas semua ini.. Bagaimana mungkin untuk kita tidak menyintai Muhammad?

 

‘’Ukuran ketulusan dan kesejatian cintamu,
Adalah apa yang kamu berikan padanya.
Untuk membuat kehidupannya menjadi lebih baik.
Maka kamu adalah air, maka kamu adalah matahari.
Ia tumbuh berkembang dari siraman airmu.
Ia besar dan berbuah dari sinar cahayamu.”
-M. ANIS MATTA-

 

MANIFESTASI CINTA DAN KETAATAN

Di gua Thur itu, Abu Bakar memanifestasikan cintanya buat Muhammad.

Ditahannya kesakitan dari sengatan binatang berbisa itu kerana tidak mahu kekasihnya itu terjaga dari lenanya. Peritnya sakit itu sehingga tertitis air matanya yang akhirnya mengalir ke wajah baginda.

Malah, setahun sebelumnya, tatkala baginda diperlekah dan diperkecilkan kaumnya setelah mendengar peristiwa Isra’, malah dituduh dusta dan gila, Abu Bakarlah yang pertama membenarkan kata-kata baginda.

Di perang Uhud pula, Talhah bin Ubaydullah membuktikan kesetiaannya.

Tatkala tentera Islam berkecamuk dan Rasulullah dikepung oleh tentara Musyrik, tampil Talhah mempertahankan Rasulullah. Dia ditetak, dipanah dan dilibas di seluruh tubuhnya malah terputus jari jemarinya, namun tidak sesekali dia berganjak dari membentengi dan melindungi kekasihnya.

 

“Wahai Rasulullah, sungguh engkau lebih aku cintai daripada segala sesuatu kecuali diriku sendiri.”

Umar mengungkapkan kata-kata itu demi membuktikan cintanya kepada sang nabi.

Nabi s.a.w. bersabda, maksudnya: “Tidak, demi Allah yang diriku berada di tangan-Nya sehingga aku lebih dicintai daripada dirimu sendiri.”

Umar r.a. berkata: “Sesungguhnya, demi Allah sekarang engkau lebih aku cintai daripada diriku sendiri.” (Riwayat al-Bukhari)

Dan Umar mengekpresikan cintanya dengan menyambung perjuangan dakwah nabi sehingga tersebarnya wilayah Islam dengan begitu pesat ketika di zaman pemerintahannya.

 

 CINTA TIDAK SEMESTINYA BERTEMU

Setelah kita meneladani kecintaan Rasulullah kepada umatnya, dan juga kecintaan para sababat buat sang rasul, tanyalah dada kita, sejauh mana jujur dan benarnya kasih kita kepada Muhammad?

Tidaklah dinamakan cinta kalau ianya sekadar bisik dan kata.

 

Cinta itu pengorbanan.

Cinta itu penyerahan.

Dan dari cinta terbitnya ketaatan.

Berjalan di atas manhajnya,

Mewarisi risalah perjuangannya,

Melalui jerit payah, pahit dan getir sepertimana yang dilalui baginda dalam menyampaikan risalah,

Malah berkorban jiwa, harta, masa dan perasaan,

Inilah bukti cinta teragung yang mampu kita zahirkan sebagai umat baginda.

 

Cinta tidak semestinya bertemu.
Cinta tidak semestinya bersama.
Malah dimensi cinta ini terjangkau melebihi jarak dan masa.

 

Biarpun Rasulullah tiada di sisi kita,

Jika kita jujur dan benar dalam  menyintai, cinta itu tetap akan termanifestasi.

Pada kata, gerak dan perlakuan kita.

 

Sesungguhnya rasulullah telah membuktikan.
Walau tanpa pertemuan, cinta itu bisa terwujud.

 

Sewaktu Rasulullah S.A.W sedang duduk bersama para sahabat, para sahabat melihat wajah Rasulullah yang sedang termenung memikirkan sesuatu. Lantas seorang sahabat bertanya “Apa yang engkau sedang fikirkan Ya Rasulullah?”
“Aku merindui ikhwanku”. Jawapan tersebut diluahkan sambil memerhatikan wajah para sahabat yang cukup setia dengannya.
“Kami lah ikhwanmu Ya Rasulullah”. Para sahabat berkata.
“Tidak kamu semua ialah sahabatku” Rasulullah menidakkannya.
“Kami lah ikhwanmu Ya Rasulullah” Sahabat menggulanginya lagi.
“Tidak, kamu semua ialah sahabatku”
“Kami lah ikhwanmu Ya Rasulullah” Sebanyak tiga kali penyataan yang diberikan oleh para sahabat tetap dijawab dengan “Tidak, kamu semua ialah sahabatku”
Kemudian Rasulullah memberi penjelasan tentang penafiannya tadi.
“Ikhwanku ialah umatku yang hidup selepas kewafatanku. Mereka mencintaiku dengan sebenar-benar kecintaan, mereka mengamalkan sunahku…walaupun mereka tidak pernah melihat wajahku.” 

 

Adakah kita umat yang dirindukan?

 

 

Mohammad Najmi bin Abdul Latif

Tahun Akhir

SDM Dental College, Dharwad

Aktivis ISMA India